Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Luar Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Luar Sekolah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Maret 2016

Pemberantasan Buta Aksara



PEKERJA PENGEMBANGAN MASYARAKAT BERVISI PEMBERDAYAAN DALAM PROGRAM PEMBERANTASAN BUTA AKSARA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Pengembangan Masyarakat
Yang dibina oleh Bapak Nurhadi



Oleh:
Aminatus Sakdiah       (140141604146)











UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
Desember 2015



A.    PEMBAHASAN

1.      PROGRAM PEMBERANTASAN BUTA AKSARA
Keaksaraan merupakan keadaan seseorang dalam hal membaca, menulis, berhitung dan berkomunikasi yang terus-menerus dikembangkan dalam hidupnya untuk meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. Pendidikan keaksaraan adalah usaha membimbing mengenai keaksaraan agar bermanfaat bagi masyarakat. Akan tetapi, di Indonesia masih tinggi tingkat buta aksara yang disebabkan karena tidak didapatkannya kesempatan belajar karena faktor ekonomi (kemiskinan).
Menurut Hatimah (2007:5.3), masyarakat yang buta aksara jarang sekali mengakui secara terbuka bahwa dirinya buta huruf dan berkeinginan kuat untuk belajar calistung (baca, tulis dan berhitung). Dari pernyataan tersebut,  cara untuk membangkitkan motivasi masyarakat agar mau belajar adalah dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan budaya yang ada di masyarakat tersebut sehingga buta aksara yang ada dapat diperkecil.

2.      PEKERJA PENGEMBAGAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM PEMBERANTASAN BUTA AKSARA
a.      Peranan Pekerja Masyarakat (Community Workers) atau Tutor
Pekerja masyarakat (community worker) adalah seseorang yang aktif membatu masyarakat dalam kegiatan pengembangan masyarakat. Jika dihubungkan dengan program pemberantasan buta aksara pekerja masyarakat yang ada di dalamnya disebut dengan tutor. Tutor termasuk pekerja pengembangan masyarakat karena mempunyai peran yang sama yaitu membantu masyarakat untuk menjadi masyarakat yang lebih berdaya.
Peranan tutor yang sangat penting adalah membangun konsensus dari beragam kebutuhan masyarakat (Fredian, 2014:58). Selain pernyataan di atas, tutor juga diperlukan untuk lebih kritis terhadap latar belakang masyarakat atau warga belajar mengenai ras, jenis kelamin, sikap berdasarkan kelas yang ada dalam masyarakat tersebut.

b.      Perlakuan Pekerja Masyarakat Terhadap Wagra Belajar
Pembelajaran yang dilakukan di masyarakat tidak seperti pembelajaran di sekolah karena dalam masyarakat sasarannya adalah orang dewasa. Pengansumsian belajar orang dewasa: (1) orang dewasa mempunyai konsepsi diri, (2) orang dewasa mempunyai akumulasi pengalaman, 3) orang dewasa mempunyai kesiapan belajar, (4) orang sewasa berharap agar dapat segera menerapkan perolehan belajarnya, (5) orang dewasa mempunyai kemampuan untuk belajar (Sudjana, 2000:63). Berdasarkan pernyataan tersebut dalam proses kegiatan program pemberantasan buta huruf, seorang tutor dianjurkan untuk memperlakukan warga belajar sesuai asumsi orang dewasa dalam pembelajaran.

3.      PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERANTASAN BUTA AKSARA OLEH PEKERJA MASYARAKAT
a.      Strategi Pembelajaran Membaca
Pada umumnya warga belajar mempunyai kemampuan untuk mengenal atau mengucapkan kata-kata yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Biasaya kata-kata tersebut antara lain adalah nama mereka, alamat dimana mereka tinggal dan sebagainya.
Dalam pemilihan bahan bacaan pekerja masyarakat dapat membuat sendiri. Jika pekerja masyarakat membuat sendiri bahan bacaan maka harus memperhatikan hal berikut.
1)      Menggunakan kata yang sudah dikenal oleh warga belajar.
2)      Menggunakan kalimat-kalimat pendek dan sederhana.
3)      Menggunakan gambar sederhana yang sesuai dengan kehidupan warga belajar baik berupa symbol, gambar, foto, dan sebagainya.
4)      Menggunakan bahan belajar dari pengalaman warga belajar seperti dari undangan pernikahan yang pernah didapatka oleh warga belajar, surat tidak masuk sekolah hasil membuatkan surat anaknya untuk izin sekolah dan sebaginya.
Kegiatan yang dapat dilakukan pekerja masyarakat dalam proses pembelajaran di program pemberantasan buta huruf antara lain sebagai berikut.
1)      Mengajarkan keterampilan membaca sesuai kebutuhan warga belajar dengan bahan bacaan yang sederhana. Keterampilan membaca yang perlu diajarkan misalnya tentang keinginan mereka. Warga belajar akan lebih mudah menerima jika itu menyangkut keinginan warga belajar sendiri. Selain keinginan, mengajarkan membaca tentang resep makanan juga dapat digunakan karena bagaimanapun warga belajar khususnya ibu-ibu pasti membutuhkan hal tersebut.
2)      Menggunakan sarana yang ada dan dimiliki warga belajar. Sarana atau alat bantu yang digunakan misalnya seperti radio dan televisi. Tentunya warga belajar mempunyai alat tersebut yang juga dapat digunaka untuk belajar di rumah mereka masing-masing sehingga bisa dijadikan media belajar pendukung.
3)      Mengajarkan keterampilan menyusun kalimat menggunakan pendekatan Bahasa Indonesia. Selain mengajarkan membaca, keterampilan menyusun kalimat juga diperlukan oleh warga belajar.
4)      Minta warga belajar untuk membacakan hasil tulisannya. Ketika poin ketiga sudah dilakukan maka sebaiknya meminta warga belajar membacakan hasil tulisannya agar mereka lebih terampil dalam membaca.
b.      Strategi Pembelajaran Menulis
           Pedoman pekerja masyarakat dalam membantu warga belajar untuk belajar menulis antara lain sebagai berikut.
1)      Pekerja masyarakat menggunakan bahan, peristiwa atau kejadian dan permasalahan yang berasal dari waarga setempa.
2)      Pekerja masyarakat memiliki berbagai pilihan gambar yang ditampilkan dalam mengemukakan masalah yang dihadapi warga belajar, selanjutnya biarkan mereka mencari penyelesaiannya.
3)      Pekerja masyarakat memberi warga belajar untuk berpikir sendiri.
4)      Pekerja masyarakat tidak boleh terlalu khawatir jika warga belajar tidak bisa menulis dengan sempurna.
5)      Pekerja masyarakat membantu warga belajar untuk percaya diri dan merasa senang karena mereka bisa menulis.
6)      Pekerja masyarakat memberi semangat kepada warga belajar untuk membantu warga belajar lainnya.
           Proses menulis akan lebih mudah dilakukan jika warga belajar saling membantu dengan yang lainnya. Hal yang dapat dilakukan pekerja masyarakat adalah sebagai berikut.
1)      Membentuk kelompok menulis. Bila pembelajaran menulis secara kelompok atau menulis dengan partner maka tugas pekerja masyarakat adalam memonitor dan membantu warga belajar satu persatu.
2)      Memilih Warga Belajar yang Mampu. Di sini pekerja masyarakat membimbing warga belajar yang kemampuannya lebih tinggi daripada warga belajar yang lainnya. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk membatu atau memperingan pekerja masyarakat dalam membimbing keseluruhan warga belajar. Warga belajar yang dibimbing terlebih dahulu diharapkan dapat membantu warga belajar lainnya yang masih dalam proses pemulaan belajar.
3)      Merangsang warga belajar untuk menulis berdasarkan pengalaman. Hal pertama yang dapat dilakukan warga belajar di sini adalah menganalisis pengalaman. Setelah dianalisis maka pengalaman tersebut ditulis oleh warga belajar. Hasil dari tulisan didiskusikan dengan warga belajar lain. Sehingga muncul sebuah ide baru dari diskusi dan dapat ditulis oleh warga belajar ide-ide tersebut.
c.       Strategi Pembelajaran Berhitung
           Pelajaran berhitung biasanya terdapat sedikit kesulitan karena warga belajar sudah mengenal hitung-menghitung akan tetapi belum mampu menulis perhitungan tersebut dengan benar. Pekerja masyarakat perlu membantu warga belajar membelajarkan berhitung yang sudah dikenal dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Maka yang dapat dilakukan pekerja masyarakat adalah mengamati kegiatan berhitung warga belajar.
           Dalam mengamati kegiatan berhitung warga belajar, pekerja masyarakat mengamatinya dalam kegiatan mereka di kehidupan sehari-hari seperti:
1)      Pekerja masyarakat mengamati kapan dan dimana warga belajar biasanya melakukan kegiatan berhitung (pasar, rumah, ladang, dan sebagainya).
2)      Pekerja masyarakat mengamati jenis hitungan yang biasa digunakan warga belajar.
3)      Pekerja masyarakat mengamati seberapa besar warga belajar melakukan perhitungan yang tepat.
4)      Pekerja masyarakat mengamati alat bantu dalam kegiatan berhitung warga belajar (garisan/meteran, kalkulator, kerikil, lidi, jari tangan, dan sebagainya).
5)      Pekerja masyarakat mengamati angka pecahan yang paling banyak dicatat oleh warga belajar secara umum.
           Pedoman pekerja masyarakat dalam membantu warga belajar untuk belajar berhitung adalah sebagai berikut.
1)      Warga belajar mempunyai kemampuan menghitung yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti menghitung jumlah anak, jumlah ternak atau peliharaan seperti ayam, kambing, dan menghitung seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian sederhana.
2)      Kemampuan menghitung masyarakat biasanya lebih baik daripada kemampuan menulisnya.
3)      Pekerja masyarakat mengajarkan keterampilan berhitung yag dibutuhkan warga belajar seperti menghitung jarak alamat warga belajar dengan suatu tempat, ukuran untuk menjahit, ukuran untuk memasak, pertumbuha anak (berat badan).
4)      Pekerja masyarakat menggunakan dan memanfaatkan alat bantu yang berasal dari kehidupan warga belajar seperti lidi, batu, daun, tangan, dan sebagainya.

B.     PENUTUP

1.      Kesimpulan
           Pekerja pengembangan masyarakat yang mempunyai visi memberdayakan masyarakat harus dapat meletakkan dirinya sebagai pendamping. Begitu pula pada program pemberantasan buta huruf, pekerja masyarakat harus bekerja sesuai peranannya yaitu membantu masyarakat agar menjadi manusia yang berdaya.        
           Pelaksanaan kegiatan program pemberantasan buta huruf pekerja masyarakat memiliki strategi-strategi yang dapat dilakukan untuk mengefektifkan kegiatan tersebut. Strategi-strategi yang dimaksud antara lain: (a) strategi pembelajaran membaca, (b) strategi pembelajaran menulis, (c) strategi pembelajaran berhitung.
2.      Saran
           Saran ditujukan untuk pekerja masyarakat (tutor) dalam program pemberantasan buta huruf. Dalam membantu warga belajar sebaiknya tutor dapat memperlakukan warga belajar sebagaimana orang dewasa belajar dan mendampingi belajar sesuai dengan kebutuhan dan budaya yang ada di masyarakat. Tugas tutor sebagai pendamping bukan pengajar. Jadi, tutor memberi kesempatan kepada warga belajar untuk memecahkan masalahnya sendiri.

C.    DAFTAR PUSTAKA
Fredian, N. T. 2014. Pengembangan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor.
Hatimah, I. 2007. Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sudjana, D. 2000. Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production.

Teringat semester 3 lalu, saya mencari nilai tambahan untuk matakuliah Pengembangan Masyarakat dengan membuat makalah pendek ini. Hehe, meskipun tidak terlalu baik, namun semoga dapat memberi manfaat bagi pembaca. Aamiin.
Salam semangat.. 

Prinsip Umum Pembelajaran






 
Sumber Gambar: anizanedu3103mab.blogspot.com

A.    Perhatian dan Motivasi
Perhatian itu penting, tidak aka nada belajar jika tanpa perhatian. Peserta didik memperhatikan bahan belajar sesuai dengan kebutuhan. Jika ia merasa butuh maka ia akan memperhatikan dan termotivasi untuk mempelajari bahan belajar tersebut.
   Motivasi adalah tenaga untuk menggerakkan aktivitas seseorang. Motivasi pun ada kaitannya dengan minat. Orang yang berminat ia akan memperhatikan sehingga muncul motivasi untuk mempelajari suatu bahan belajar.

B.     Keaktifan
John Dewey mengatakan bahwa belajar merupakan menyangkut apa yang harus dikerjakan oleh peserta didik sendiri, maka inisiatif untuk belajar harus datang dari peserta didik tersebut. Pendidik hanya sebagai pembimbing atau pengarah.
Mc. Keachie menyatakan bahwa indiviru adalah manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu. Aktif yang dimaksud yaitu aktif fisik (mudah diamati) dan psikis (sulit diamati). Aktif fisik misalnya membaca, menulis, sedangkan aktif psikis misalnya membedakan konsep 1 dengan konsep lainnya dan keaktifan yang sulit diamati lainnya.

C.    Keterlibatan Langsung
Edgar perpendapat, belajar yang paling baik adalah menjalaninya langsung. Siswa tidak sekedar hanya mengamati tetapi ia harus menghayati dan terlibat langsung dalam pembuatan dan bertanggungjawab atas hasilnya. Contoh belajar membuat tempe, peserta didik tidak hanya sekedar mengamati tetapi harus praktik untuk membuat tempe, agar ia benar-benar paham bagaimana cara membuat tempe yang baik.

D.    Pengulangan
Berdasarkan Teori Daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia. Daya tersebut antara lain mengamati, menganggap, mengkhayal, merasakan, berfikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya tersebut akan berkembang. Bagaikan pisau yang terus diasah maka akan semakin tajam.
Teori koneksionisme (Thordike) menyatakan bahwa belaar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, serta pengulangan terhadap pengalaman dapat memperbesar timbulnya respon yang bnar.

E.     Tantangan
Berdasarkan Teori Medan menurut Kurt Lewin, siswa belajar dalam suatu medan. Siswa atau peserta didik yang belajar pasti mempunyai tujuan. Akan tetapi, dalam belajar pasti ada hambatan saat mempelajari bahan belajar tersebut. Maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan tersebut dengan mempelajari bahan belajar.
Dapat disimpulkan bahwa, belajar adalah berusaha untuk mengatasi hambatan untuk mencapai tujuan. Agar timbul motif yang kuat pada peserta didik, maka bahan belajar harus menantang.

F.     Balikan dan Penguatan
Teori belajar Conditing menurut BF. Skinner yang merupakan kunci dari Low effect-nya Thordike yaitu hubungan stimulus dan respon akan bertambah erat jika disertai dengan perasaan puas. Jika suatu perbuatan menimbulkan efek baik, maka perbuatan tersebut cenderung untuk diulang. Misalnya, peserta didik akan belajar lebih giat dan semangat jika ia mengetahui bahwa mendapat hasil (nilai) baik. Hal tersebut akan menumbuhkan penguatan baginya.
Penguatan ada dua macam, penguatan positif dan negatif. Contoh dari penguatan positif adalah ketika peserta didik mendapat nilai baik, ia akan lebih giat belajar agar mendapatkan nilai baik lagi. Contoh penguatan negative adalah ketika peserta didik mendapat nilai kurang baik, ia lebih giat lagi dalam belajarnya karena ingin mendapat nilai yang baik.

G.    Perbedaan Individu
Peserta didik merupakan individu yang berbeda seperti perbedaan intelegensi, minat, bakat, hobi, tingkah laku, sikap, berdasarkan latar belakang keudayaan, ekonomi, sosial dan keadaan orangtuanya. Pendidik harus mampu memahami hal tersebut.
Peserta didik berkembang sesuai kemampuannya masing-masing, tempo perkembangannya juga berbeda-beda. Pendidik harus dapat memberi materi pelajaran sesuai temponya. Perbedaan individu tersebut berpengaruh pada cara dan hasil belajar peserta didik.
 

Prinsip Umum Pembelajaran di atas merupakan salah satu tugas saya pada matakuliah Metode Pembelajaran PLS (UM) semester 4. Semoga bermanfaat bagi yang memerlukan.
Salam semangat..